JOGJA.DIKSIBER.id | YOGYAKARTA – Laporan keuangan, pada umumnya, hanya dipandang sebagai dokumen administratif yang menjadi kajian para akuntan dan regulator. Namun di tangan Lazismu Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), laporan itu diterjemahkan menjadi sebuah narasi kemanusiaan: tentang seorang anak yatim yang kembali bersekolah, tentang petani yang bangkit dari lilitan kemiskinan berkat modal usaha zakat produktif, dan tentang seorang ibu di pelosok Nanggulan, Kulon Progo, yang mengolah bonggol pisang kepok kuning menjadi kerupuk bernilai ekonomi, bukan sekadar limbah kebun.
Itulah semangat yang melatarbelakangi gelaran Public Expose Pelaporan Tahunan 2025 Lazismu DIY, yang diselenggarakan pada Jumat 6 Maret 2026 lalu, di Den Nany Resto, Jalan Taman Siswa, Mergangsan, Yogyakarta. Acara ini digelar sebagai wujud transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) kepada masyarakat, para muzaki, serta seluruh mitra lembaga.
Hadir dalam forum tersebut para pemangku kepentingan lintas sektor: perwakilan Lazismu Pusat, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (POROZ), jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Sekretaris Daerah DIY, mitra kolaborasi, hingga para muzaki yang selama ini mempercayakan pengelolaan zakatnya kepada Lazismu.
Wakil Ketua Bidang Fundraising dan Kerja Sama Lazismu DIY Purnomo, S.T., M.M. menuturkan, Public Expose yang digelar Lazismu DIY tahun ini menyampaikan pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar laporan angka. Namun, memberikan penegasan bahwa gerakan filantropi modern tidak hanya berbicara tentang seberapa besar dana yang berhasil dihimpun, tetapi tentang bagaimana membangun ekosistem solidaritas yang mampu menjawab persoalan sosial secara lebih berkelanjutan.
“Melalui kegiatan ini, Lazismu DIY berharap kepercayaan publik terhadap pengelolaan zakat semakin menguat dan kolaborasi lintas sektor semakin erat,” ujar Purnomo, dalam keterangannya, Rabu (11/3/2026).
Sebelum memaparkan angka-angka penghimpunan, Purnomo menempatkan kinerja lembaga dalam konteks sosial yang lebih luas. Dia menyebut tahun 2025 sebagai ‘potret paradoks’ bagi Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Karena di tengah paradoks pembangunan yang masih membelit Yogyakarta, zakat bisa menjadi kekuatan kolektif yang mendorong perubahan sosial dan mempersempit jarak kesejahteraan di tengah masyarakat,” tambahnya.
Di satu sisi, sejumlah indikator pembangunan menunjukkan capaian yang cukup membanggakan. Sebanyak 83,92 persen penduduk usia 7-23 tahun masih mengenyam pendidikan, sementara 89,07 persen masyarakat telah memiliki perlindungan kesehatan melalui BPJS.
Namun, di balik gemerlap angka-angka tersebut, realitas sosial tidak sepenuhnya sejalan dengan potret statistik. Ketimpangan pendapatan masih mencengkeram, kelompok rentan masih tersisih dari arus pembangunan, dan akses terhadap layanan dasar masih jauh dari merata.
“Dana zakat yang dihimpun dari masyarakat adalah bentuk kepercayaan publik. Tantangan terbesar adalah memastikan dana tersebut benar-benar memperkuat ketahanan sosial masyarakat,” ungkap Purnomo.
Dalam laporan yang dipaparkan kepada para peserta, Purnomo menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2025, Lazismu se-DIY berhasil menghimpun dana ZIS sebesar Rp64,2 miliar. Dana tersebut mengalir dari berbagai sumber: zakat maal, zakat fitri, infak terikat, infak tidak terikat, ibadah qurban, hingga dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) dari mitra korporat.
Dari total penghimpunan tersebut, sebesar Rp45,2 miliar telah disalurkan kepada 75.961 penerima manfaat, baik individu maupun lembaga, di seluruh wilayah DIY.
Penyaluran dilakukan melalui enam pilar program yang dirancang untuk menjawab berbagai dimensi kebutuhan masyarakat. Pilar Sosial dan Dakwah menjadi penyaluran terbesar dengan nilai Rp7,3 miliar yang menjangkau 24.877 penerima manfaat. Pilar ini mencakup pemberian santunan anak yatim, dukungan fakir miskin, beasiswa pondok pesantren, dan penguatan lembaga dakwah.
Pilar Pendidikan menerima Rp6,04 miliar untuk 5.853 penerima manfaat, guna menjaga akses belajar bagi kelompok rentan yang terancam putus sekolah.
Pilar Kemanusiaan mendapatkan alokasi Rp4,1 miliar untuk 6.895 penerima manfaat, mencakup respons bencana dan pendampingan kelompok marjinal.
Pilar Kesehatan mengalirkan Rp1,9 miliar kepada 13.487 penerima manfaat melalui berbagai dukungan layanan medis. Program penguatan ekonomi masyarakat memperoleh Rp861 juta bagi 1.987 penerima manfaat dengan fokus pengembangan usaha kecil dan wirausaha produktif.
Terakhir, Pilar Lingkungan mendapatkan Rp93 juta yang diimplementasikan melalui 35 kegiatan berbasis kepedulian ekologis.
“Dalam konteks inilah gerakan zakat, infak, dan sedekah memperoleh relevansi baru. Bukan lagi sebagai ibadah yang bersifat individual, melainkan sebagai instrumen kolektif untuk mempersempit jarak kesejahteraan di tengah masyarakat,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Lazismu DIY Jefree Fahana, S.T., M.Kom. menyampaikan, salah satu inovasi paling inspiratif yang dipamerkan dalam Public Expose ini adalah Program Kampung Berkemajuan (PKB). Program berbasis kawasan ini merupakan model pemberdayaan masyarakat yang mencakup sektor pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi secara terpadu.
“Lebih dari sekadar distribusi uang, program ini membangun ekosistem kemandirian warga dari akar,” imbuh Jefree.
Di Padukuhan Grubug, Kalurahan Jatisarono, Nanggulan, Kulon Progo, program PKB telah membuahkan hasil yang nyata. Pada November 2025, Lazismu DIY bersama Jaringan Tani Muhammadiyah (JATAM) DIY dan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo menanam seribu pohon pisang kepok kuning secara simbolis, yang secara resmi dibuka oleh Bupati Kulon Progo, Dr. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M.
Inovasi tidak berhenti pada budidaya buah. Warga binaan program didorong untuk mengolah seluruh bagian tanaman pisang, dari buah, batang, hingga bonggol, menjadi aneka produk pangan bernilai jual.
Kerupuk bonggol pisang kepok kuning kini menjadi ikon produk unggulan Kampung Berkemajuan Grubug yang bahkan berhasil dipamerkan di stand pameran Rakernas Lazismu di Kalimantan Selatan.
Grubug bisa menjadi penyedia bibit pohon pisang kepok kuning, lalu mulai dari buah pisang, batang hingga bonggol pohon pisang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku aneka olahan pangan.
Lazismu DIY juga terus memperkuat inovasi program filantropi modern melalui berbagai program unggulan lainnya, seperti Beasiswa Sang Surya, Peduli Guru, dan Qurban Ketahanan Pangan. semuanya dirancang untuk mendorong kemandirian masyarakat secara berkelanjutan, bukan ketergantungan.
Program Beasiswa Sang Surya merupakan salah satu wajah paling humanis dari Pilar Pendidikan Lazismu DIY. Dimulai sejak tahun 2022 dengan hanya tujuh penerima manfaat, program ini terus berkembang menjadi 19 mahasiswa pada 2023, kemudian 28 mahasiswa pada 2024, dan kini memasuki Batch ke-4 pada 2025 dengan jumlah penerima yang terus bertambah dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta.
Beasiswa ini khusus diberikan kepada mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu, memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi tembok penghalang bagi generasi muda untuk meraih pendidikan tinggi yang berkualitas.
Dalam aspek tata kelola dan akuntabilitas, Lazismu DIY mencatat prestasi yang tidak banyak dimiliki lembaga nirlaba lain. Lembaga ini telah memperoleh opini audit Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) secara berturut-turut sejak tahun 2018 hingga 2024, tujuh tahun tanpa putus.
Manajer Regional Lazismu DIY Marzuki menegaskan komitmen lembaga dalam menjaga amanah pengelolaan dana umat. Sebagai bentuk pengelolaan yang profesional, Lazismu setiap tahun menjalani audit keuangan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) independen, serta bersiap menjalankan audit syariah guna memastikan seluruh proses pengelolaan dana sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam.
“Dalam pengelolaan dana ZIS yang dititipkan kepada Lazismu DIY, kami berkomitmen untuk mengelola secara profesional dan amanah agar memberikan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat,” jelas Marzuki.
Lebih jauh, Marzuki mengungkapkan arah strategis lembaga ke depan. Melalui program unggulan seperti Beasiswa Sang Surya dan program pemberdayaan kawasan, Lazismu DIY berkomitmen untuk terus meningkatkan alokasi pendayagunaan zakat produktif agar proporsinya semakin besar dibandingkan bantuan yang bersifat konsumtif. Sebuah pergeseran paradigma yang signifikan dalam dunia filantropi Islam.
Menjelang waktu berbuka puasa, Wakil Ketua PWM DIY yang membidangi LAZIS serta Majelis Pendidikan Islam (MPI) Prof. Dr. H. Ariswan, M.Si., DEA. menyampaikan tausyiah refleksi zakat. Dia menekankan pentingnya zakat sebagai instrumen solidaritas sosial dan pembangunan kesejahteraan umat.
“Bukan semata-mata kewajiban ritual yang ditunaikan setahun sekali,” terang Ariswan.
Rangkaian Public Expose kemudian ditutup dengan suasana yang penuh keakraban: penyerahan simbolis santunan anak yatim dari Danamon Syariah, buka puasa bersama, salat Magrib berjamaah, serta ramah tamah dan sesi foto bersama para peserta. ***
