YOGYAKARTA – Bukan sekadar keberuntungan, bukan pula sesuatu yang datang begitu saja, itulah pesan utama yang disampaikan Prof. Dr. Fatwa Tentama, S.Psi., M.Si. ketika Surat Keputusan (SK) Guru Besar secara resmi diserahkan kepadanya.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta ini kini menjadi Profesor ke-2 di Fakultas Psikologi UAD, sekaligus salah satu Profesor Psikologi termuda di Indonesia. Sebuah pencapaian yang lahir dari perencanaan panjang, kerja keras dan komitmen akademik yang tak pernah surut.
Prosesi penyerahan SK Guru Besar berlangsung pada Selasa, 10 Februari 2026 lalu, di Ruang Audiovisual Museum Muhammadiyah, Kompleks Kampus IV UAD, Yogyakarta. Kepala LLDIKTI Wilayah V Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., menyerahkan langsung SK tersebut kepada Prof. Fatwa. Sebuah momen yang menjadi tonggak penting dalam penguatan kualitas akademik serta pengembangan keilmuan berkemajuan di lingkungan UAD.
Pencapaian Prof. Fatwa menjadi bukti nyata bahwa jabatan Guru Besar bukanlah mimpi yang harus menunggu usia senja. Dengan perencanaan yang matang, konsistensi dalam Catur Dharma dan komitmen terhadap pengembangan keilmuan, gelar tertinggi akademik itu bisa diraih lebih awal. Untuk kemudian dimanfaatkan supaya memberikan dampak yang lebih besar, lebih luas dan lebih bermakna bagi dunia pendidikan serta masyarakat Indonesia.
Prosesi ini sekaligus menandai babak baru bagi Fakultas Psikologi dan Program Studi Magister Psikologi UAD, yang kembali mencatatkan capaian akademik membanggakan dalam sejarah institusinya.
Prof. Fatwa meraih jabatan akademik tertinggi dengan kepakaran di bidang psikologi kerja, organisasi dan kewirausahaan. Dia memulai karier sebagai dosen tetap di Fakultas Psikologi UAD sejak tahun 2013 dan mengajukan kenaikan jabatan akademik Profesor ketika usianya baru menginjak 40 tahun. Suatu pencapaian yang tidak lazim di dunia akademik Indonesia, di mana rata-rata Guru Besar diraih pada usia yang jauh lebih tua.
Saat ini, selain mengemban tanggung jawab sebagai Guru Besar, Prof. Fatwa juga mendapatkan amanah struktural sebagai Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Manusia, Keuangan, Kehartabendaan dan Administrasi Umum (SDM dan KKAU) di Fakultas Psikologi UAD. Membuktikan bahwa produktivitas akademik dan kepemimpinan dapat berjalan beriringan.
“Meraih Guru Besar itu by desain dengan rencana dan proses yang matang dan panjang, tidak kebetulan atau karena keberuntungan dan tidak juga karena mengalir, semua ditargetkan dengan penyusunan roadmap kenaikan jabatan akademik,” kata Prof. Fatwa, dalam keterangannya, Senin (13/4/2026).
Keberhasilan Prof. Fatwa meraih gelar tertinggi akademik bukan tanpa fondasi yang kokoh. Dia dikenal sebagai dosen yang aktif dan produktif dalam menjalankan Catur Dharma Perguruan Tinggi secara seimbang dan menyeluruh.
Demikian pula berbagai kegiatan ilmiah seperti pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan inovasi, pengabdian kepada masyarakat dan publikasi produk ilmiah yang mencakup artikel jurnal, buku dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Keseimbangan dan konsistensi dalam menjalankan seluruh pilar Catur Dharma itulah yang menurut Prof. Fatwa menjadi kunci utama perjalanan panjangnya hingga akhirnya berhak menyandang gelar Profesor. Tidak ada satu pun pilar yang diabaikan dan tidak ada satu pun langkah yang dilakukan tanpa perencanaan yang matang.
Sebagai Profesor termuda di Fakultas Psikologi UAD dan salah satu Profesor Psikologi termuda di Indonesia, Prof. Fatwa kini tidak hanya menjadi kebanggaan institusi tetapi juga teladan nyata bagi para dosen muda yang tengah menapaki tangga karier akademiknya. Perjalanannya membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk meraih puncak, selama ada peta jalan yang jelas, niat yang kuat dan konsistensi yang tak tergoyahkan.
“Percayalah pada proses karena proses itu tidak akan mengkhianati hasil, proses itu menguji kelayakan kita untuk meraih hal yang besar. Berproseslah dalam meraih Guru Besar sejak dini melalui penyusunan roadmap jabatan akademik yang jelas dan terukur,” ujarnya, di penghujung momentum bersejarah itu. Sebuah pesan yang sarat makna bagi seluruh sivitas akademika dan generasi penerus di dunia pendidikan tinggi. ***
